Selam [Film Turki]

Seorang anak lelaki berkulit hitam legam menghentikan kegiatannya memanen garam ketika mendapat kabar adik perempuannya terjatuh di atas bebatuan. Ia  pun berlari pulang dan mendapati sang adik dibawa ayahnya keliling desa mencari pertolongan. Tak ada yang sanggup menolong. Sang adik meninggal di pangkuan ayah dan ibunya.

Film Selam ini dibuka dengan gambaran masyarakat di pinggir Lac Rose, sebuah danau berwarna merah muda di Senegal. Desa kecil yang kering, tandus, tanpa air bersih. Khadim, sang kakak, menyimpan dendam kepada orang berkulit putih. Baginya, Aya masih bisa diselamatkan jika saja mobil turis itu mau berhenti dan membawanya ke rumah sakit.

Ribuan kilometer dari Dakar, di sebuah bandara International milik negara yang mahsyur, seorang perempuan menunggu penerbangannya menuju Kabul, Afghanistan. Ia meninggalkan kota Istanbul demi sebuah tugas yang mulia. Di pintu keberangkatan yang berbeda, seorang lelaki sedang menahan tangis ibunya, memohon ridho agar Senegal tak melukainya. Tak jauh dari haru biru anak lelaki dan ibunya itu, seorang suami mengucapkan janji akan kembali pulang pada hari persalinan istrinya. Sembari memegang perut buncitnya, sang istri belajar merelakan suaminya yang sebentar lagi akan terbang menuju Bosnia Herzegovina.

Film ini diangkat dari kisah nyata tentang tiga orang pemuda yang mengajar di kota-kota di luar Turki. Meninggalkan keluarga demi membantu orang lain di tempat yang berbeda bahasa dan budaya. Film Selam ini dipenuhi dengan percakapan-percakapan bijak nan puitis. Terlebih bagi mereka yang membutuhkan inspirasi dan motivasi untuk berbuat lebih banyak.

Terlepas dari scene negara Bosnia & Herzegovina yang masuk dalam list traveling saya, scene terbaik dari film ini adalah bagaimana Turki mengenalkan budaya mereka yang Islami di negara-negara tujuan. Di Sarajevo, Adem mengajari arti Selam (Salam) pada anak-anak di kelasnya yang ditunjukkan dengan cara yang membuat saya teringat dengan seseorang.

Ketika mengucapkan Salam kepada orang lain, Adem menyentuh dadanya, kemudian mulutnya, lalu keningnya. Persis dengan apa yang dilakukan oleh bapak penjual daging di Stadtmitte ketika pertama kali ia menanyakan asal negaraku. Ternyata arti dari gesture tubuh itu adalah hati, mulut, dan akalku tidak akan melukaimu. Bapak itu dan juga beberapa kawan Turki yang pernah saya temui rupanya sedang mengamalkan matinul khuluq, akhlak seorang Muslim yang menunjukkan kualitas keimanannya dengan memberikan rasa aman kepada siapa saja yang baru dikenalnya.

Film ini sebenarnya mengingatkan saya dengan program Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasi di Indonesia. Turki memiliki “Gülen Movement”. Organisasi sosial-religius yang diprakarsai oleh Fethullah Gülen, seorang tokoh Islam di Turki. Meskipun mendapat banyak kritik, Gülen Movement dinyatakan berhasil membangun sekolah-sekolah private hampir di 180 negara di dunia.

Film berdurasi 1 jam 44 menit ini memadukan idealisme, budaya, dan rasa nasionalisme dalam bingkai pengabdian.

[roadtothesis.wordpress.com]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.