Sui Dhaaga Made in India; Dibalik Kesuksesan Pria, Ada Wanita Hebat di Belakangnya



Sui Dhaaga Made In India mengingatkan saya pada film biografi Indonesia ‘Habibi dan Ainun’ tema yang diangat sama. Berkisah interaksi antara sepasang suami istri dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Akan tetapi saya berani mengatakan film Sui Dhaaga ini menawan simpati saya dibanding film-film sejenis. Film ini menginspirasi saya tentang perjuangan meraih asa, perjuangan untuk membela kehormatan dan perjuangan demi orang tercinta dan keluarga.

Dibalik suksesnya seorang lelaki, ada pengorbanan dan perjuangan seorang wanita. Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Tidak ada yang bisa hidup sendiri. Bahkan laki-laki dan perempuan seperti pakaian yang saling menutupi kesalahan dan kekurangan satu sama lain. Bisa saja seorang wanita menangis ketika ada yang membuatnya sakit hati. Tapi terkadang wanita bisa menjadi sosok yang kuat dan tangguh tanpa tanding. Akan tetapi terkadang ketangguhan seorang wanita tersebab suaminya. Begitu juga sebaliknya.



Sui Dhaaga Made In India mengisahkan tentang Mauji (Varun Dawan). Dia seorang lelaki yang pantang menyerah dengan semua keadaan yang dia hadapi. Dia seorang lelaki yang tidak merasa lemah oleh hinaan dan cacian dari orang lain. Bahkan dia seringkali mendapatkan hinaan dari bosnya di tempat kerja. Tapi demi melihat istrinya menangis karena dihina di acara pesta sang bos, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan dan menganggur. Dia tidak rela istrinya menangis karena penghinaan.

“Yang dihina itu saya, bukan kamu.”

Sungguh indah apa yang dikatakan Mamta sang istri, “Kehinaan dirimu juga kehinaan diriku. Carilah pekerjaan lain yang membuat dirimu terhormat.”

Mamta seorang istri yang luar biasa. Dia tidak begitu mempedulikan kemiskinan hidupnya. Rela tinggal bersama mertua yang cerewet yang tidak pernah berhenti menyuruhnya melakukan aktivitas rumah tangga. Perempuan yang sedikit bicara juga santun kepada suami dan orang tua pengeluh. Well, para penonton –wabil khusus para wanita- harus belajar dari sosok Mamta.

Mamta memang wanita cerdas, ia ingin suaminya menjalankan usaha menjahit mengikuti jejak kakeknya. Tetapi, ayahnya tidak pernah setuju. Ia menganggap usaha menjahit tidak akan membuahkan hasil. Ia lebih menginginkan anaknya kerja di Meerut sebagai pekerja listrik, dengan gaji yang besar walaupun harus membeli ijazah palsu.



Mauji menolak keras, ia tidak ingin meninggalkan orangtuanya demi duit. Ia pun mengikuti saran istrinya membuka tempat menjahit di pinggiran jalan tempat orang jualan. Hari pertama bekerja, hari itu juga Mamta membawakan bekal secara diam-diam. Mauji memintanya makan bersama, sungguh Mamta terharu. Baginya, untuk pertama kali merasakan indahnya makan bersama.

Kisah kehidupan yang penuh tanjakan, liku dan duri-duri. Dilalui oleh mereka tanpa mengeluh, tanpa keraguan dan penyesalan. Film ini menyimpan banyak pesan-pesan kehidupan yang berbobot hampir di setiap adegan selama 2 jam. Hampir banyak film yang diproduksi terkadang menampilkan sisi terang yang gemerlap dari kalangan orang berada. Berbeda dengan "Sui Dhaaga Made in India", menampilkan betapa peliknya kehidupan masyarakat pedalaman yang berbading terbalik dengan warga metropolitan. Akses kesehatan yang belum memadai, juga sering terjadinya korupsi di beberapa instansi. Semua itu dikemas dengan baik tanpa menyinggung pihak mana pun.

Seperti pada adegan ketika ibu Mauji harus dibawa ke rumah sakit karena serangan jantung, dokter meminta biaya pengobatan harus dilunasi di awal sebelum dioperasi. Keadaan mendesak memacu pikiran Mauji untuk berpikir keras. Berdebat dengan ayahnya di rumah sakit, hanya karena pengangguran dan tidak membantu keadaan mereka, selain mengganggu ketenangan orang sekitar.
Ibu Mauji tidak nyaman mengenakan baju sari untuk berbaring di bangsal. Mamta berniat membuatkan baju untuk mertuanya, mengajak suaminya menjahitkan pakaian hangat dengan bahan kain seadanya; korden dilepas, kain-kain yang dimiliki untuk kombinasi dan terakhir mengambil memberi motif cap. Perjuangan mereka membuahkan hasil, banyak pasien yang menyukai, memesan untuk dibuatkan baju yang sama dengan motif yang sama pula.



Namanya kehidupan selalu ada manis dan getir, ada yang tidak menyukai usaha mereka seperti ayahnya yang menyewakan mesin jahitnya kepada tetangga. Merebutnya pun membuat malu keluarga Mauji. Ia teringat akan mesin gratis yang didapatkan dengan cara ikut tes menjahit. Tetapi jarak tempuhnya 40 mil, Mauji nekat membawa serta istrinya dengan sepeda ontel kesayangannya di bawah terik matahari dan pasir gurun yang terbang menerpa mata.

Mereka harus mengantri dengan nomor urut ke-700 berdesakan dengan ribuan warga lainnya. Ketegangan dalam film ini terasa, saat Mauji yang kakinya berdarah tersandung batu selama di perjalanan harus meninggalkan istrinya menunggu nomor panggilan antri.

Haru dan ingin menangis jika mengingat usaha keras demi sebuah mesin jahit gratis, mereka bisa pulang dan melanjutkan perjuangan menjahit 15 potong pakaian dalam semalam suntuk. Ketegangan memuncak tatkala karya mereka ada yang membelinya dalam jumlah banyak, pelakunya orang terdekat Mauji yang terlihat meyakinkan akan membayar biaya rumah sakit. Tetapi berkompromi dengan salah satu dokter rumah sakit untuk bisnis pakaian untuk pasien.

Uang memang segalanya, tetapi harga diri tidak bisa dibeli dengan uang. Mereka pun tidak sudi harus bekerja di pabrik atas pakaian yang mereka ciptakan sendiri namun menggunakan label negara lain.
Pada titik ini Mamta menguatkan suaminya yang masih tidak terima dengan keadaan keluarganya yang terus menyudutkan. Padahal ia sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi tidak dianggap. Tidak ada yang indah dengan saling mempertahankan egoisitas. Rumah menjadi sunyi dan tidak berpenghuni.

Film ini sukses meremas hati saya dan mengaduk emosi terdalam. Segalanya seakan mustahil kecuali atas campur tangan Allah. Film ini ditutup dengan ending yang manis seperti harapan para penonton pada umumnya. Bagaimana endingnya? Tonton filmnya aja ya.

Ada banyak pesan yang saya ambil dari film Sui Dhaaga Made in India, arti dari "Jarum dan Benang dari India".

Pertama, setiap orang akan mendapatkan apa yang dia usahakan. Karena usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Kedua, kehormatan diri dan keluarga adalah segala-galanya. Bahkan tidak bisa terbeli oleh uang.

Ketiga, selalu ada kemudahan setelah kesulitan mendera.

Keempat, kesuksesan kita tidak terlepas dari dorongan dan support orang tercinta.

Hal paling berkesan yang saya dapat setelah menonton film ini, segila-gilanya mimpi ialah yang mengucapkan ‘gila’ namun tidak melakukan. Hanya mematung, menunggu dan berharap hasil banyak.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.