Bajrangi Bhaijan, Kemanusiaan Tidak Mengenal Garis Batas Dan Agama
Ini adalah kali kedua saya menonton 'Bajrangi Bhaijan' setelah dua tahun yang lalu sempat menontonnya. Entah kenapa, saya merasa tidak bosan. Film ini adalah film terbaik yang saya tonton setelah 3 Idiots. Film berdurasi 2,5 jam ini memberi kita pelajaran bahwa kemanusiaan itu tidak dapat dipisahkan oleh garis pembatas maupun pos-pos penjagaan keamanan antar kedua negara. Mengangkat tentang dendam history antara India-Pakistan membuat saya tak ragu memberikan rating tinggi untuk film ini.
Jalan cerita pada film ini mampu menghadirkan banyak rasa yang teraduk di dalamnya; kocak, senang, gembira, sedih, pilu, marah bahkan terenyuh. Inilah khas nya film India. Selalu membuat orang yang menikmatinya tak bisa berpaling.
Cerita dibuka dengan terpisahnya seorang gadis bisu muslim (Sahida) dari kahsmir bagian Pakistan dengan ibunya setelah kepulangan mereka dari beropbat di Delhi. Tanpa sengaja gadis kecil itu ditemukan oleh seorang Hindu bernama Bajrangi yang kemudian hari baru tahu bahwa gadis itu anak muslim, agama yang dibenci calon ayah mertuanya. Mau tak mau, demi meredam amarah calon ayah mertua, dia harus mengembalikan Sahida ke Pakistan. Tentunya ini bukan hal sepele. Bajrangi harus mampu melewati pembatas antar kedua negara meskipun dilakuan dengan cara yang illegal.
Akan tetapi semua berjalan lancar. Beberapa kali ia harus dituduh sebagai mata-mata, dikejar-kejar pihak keamanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya tertangkap, di jebloskan dalam penjara, disiksa, digantung kedua tangannya, dipukuli dengan kayu dan pentungan sampai sekujur tubuhnya berdarah, lebam dan menghitam. Tapi akhirnya tujuannya tercapai juga meski dramatis. Keluarga Pakistan dipertemukan kembali dan Bajrangi akhirnya bisa pulang ke India setelah masyarakat kedua negara sadar bahwa dibalik dendam dan amarah tersebut masih ada sisi kemanusiaan yang mampu mengetuk hati.
Jalan cerita pada film ini mampu menghadirkan banyak rasa yang teraduk di dalamnya; kocak, senang, gembira, sedih, pilu, marah bahkan terenyuh. Inilah khas nya film India. Selalu membuat orang yang menikmatinya tak bisa berpaling.
Cerita dibuka dengan terpisahnya seorang gadis bisu muslim (Sahida) dari kahsmir bagian Pakistan dengan ibunya setelah kepulangan mereka dari beropbat di Delhi. Tanpa sengaja gadis kecil itu ditemukan oleh seorang Hindu bernama Bajrangi yang kemudian hari baru tahu bahwa gadis itu anak muslim, agama yang dibenci calon ayah mertuanya. Mau tak mau, demi meredam amarah calon ayah mertua, dia harus mengembalikan Sahida ke Pakistan. Tentunya ini bukan hal sepele. Bajrangi harus mampu melewati pembatas antar kedua negara meskipun dilakuan dengan cara yang illegal.
Akan tetapi semua berjalan lancar. Beberapa kali ia harus dituduh sebagai mata-mata, dikejar-kejar pihak keamanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya tertangkap, di jebloskan dalam penjara, disiksa, digantung kedua tangannya, dipukuli dengan kayu dan pentungan sampai sekujur tubuhnya berdarah, lebam dan menghitam. Tapi akhirnya tujuannya tercapai juga meski dramatis. Keluarga Pakistan dipertemukan kembali dan Bajrangi akhirnya bisa pulang ke India setelah masyarakat kedua negara sadar bahwa dibalik dendam dan amarah tersebut masih ada sisi kemanusiaan yang mampu mengetuk hati.



Tidak ada komentar: