The Free Word; Kebebasan Dalam Penyerahan Jiwa
Malam itu Doris melihat Mohammed tengah
berwudhu, maka dia bertanya, “Mengapa Engkau Melakukan itu?”
Mohammed terdiam sejenak dan menjawab, “Agar
suci di hadapan Tuhan saat aku sembahyang.”
“Kedengarannya indah.”
“Makasih.”
“Sudah terbiasa melakukan hal ini sejak
kecil?’ tanya Doris yang belum habis rasa penasarannya.
“Tidak, aku melakukan hal ini sejak
dipenjara.”
“Kenapa tidak menyembah Yesus saja?”
Kali ini Mohammed merasa perlu untuk berpikir
terlebih dahulu, dia merenung sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang
prinsipil terseut.” Orang kristen, mereka selalu menuntut aku untuk membuat
kesaksian. Aku tidak punya apa pun untuk disaksikan di hadapan Tuhan, Islam
tidak pernah begitu. Islam apa artinya, artinya pennyerahan.”
Dialog di atas adalah scene dialog film ‘The
Free World’ yang mengesankan bagi saya. Oleh karena itu saya memutuskan untuk
mengutipnya sebagai pembukaan ulasan film ini. Dialog antara Mohammed dengan
Doris, perempuan yang ditolongnya itu menyadarkan kembali arti dan makna islam.
Penyerahan secara total kepada Allah..
Nah, sekarang mari kita ulas ‘The Free Word’
dari sudut pandang saya pribadi sebagai penonton.
Sebenarnya saya tidak mengatakan film ini
sebagai film ideal untuk menggambarkan kehidupan muslim yang baik. Sepanjang
pemutaran film saya tidak bisa memungkiri bahwa saya tersenyum geli dan tidak
habis pikir dengan ‘kenaifan’ si tokoh bernama Mohammed yang direpresentasikan
sebagai muslim mualaf.
Saya mengatakan Mohammed bukan gambaran
seorang pria muslim yang ideal, karena dia masih bersentuhan dengan anjing dan
masih berciuman dengan wanita yang bukan istrinya. Bahkan ketika dalam adegan
shalat, aku bisa melihat bacaan dan gerakan yang kaku. Ya maklum lah, aktornya
seorang non-muslim yang dituntut untuk berperan sebagai seorang muslim. Lebih
konyol lagi ketika dia tidak menuntaskan shalatnya ketika Doris
memperhatikannya. Ini kan lucu, apakah shalat disamakan dengan berdoa di gereja
yang bisa diinterupsi?
Dari semua kekonyolan ini, ada dua
kemungkinan. Pertama, bisa jadi sang sutradara tidak memahami islam secara
menyeluruh selain yang bersifat prinsipil tentang ‘Menyembah Allah.’ Kedua,
bisa jadi si sutradara menampakan semua kekonyola itu untuk menggambarkan tokoh
Mohammed yang masih awam karena baru saja masuk islam.
Well, kalian mungkin penasaran siapakah
Mohammed yang saya ceritakan? Mohammed adalah seorang pria kulit putih dengan
nama asli Alex. Mengagumi islam ketika berada di penjara dan akhirnya memutuskan
menjadi seorang muslim.
Dia dikenal sebagai pria ganas dan penjahat
kelas kakap yang mencicipi penjara sejak umur 15 tahun. Pada akhirnya, dia
bekerja di penangkaran anjing peliharaan dan dari mulai scene inilah keseruan
hidupnya dimulai.
Saya mendapatkan pelajaran berharga dari film
yang satu ini. The Free World menyadarkan kita arti dari kebebasan yang
sebenarnya. Kebebasan adalah ketika kita berserah diri kepada Allah subhanahu
wata'ala dan melihat orang yang kita cintai baik-baik saja.
Hal ini bisa kita lihat ketika tokoh Mohammed
rela berkorban untuk Doris dan bagaimana dia menyerahkan dirinya di hadapan
moncong senjata polisi sembari bergumam, “Aku menyerah kepada-Mu.”
Gambaran sikap tawakal yang begitu indah.
Pennasaran kan? Yuk download filmnya disini

Tidak ada komentar: