Manmarziyaan, Love Before Marriage or Love After Marriage


Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘cinta pertama tak pernah terlupakan.’ Menurut saya pepatah ini hanyalah sebuah legitimasi dari penderitaan panjang dan pengkhianatan pada pernikahan yang lebih suci. Betapa banyak kita temukan kasus CLBK dengan alasan memenangkan cinta pertama sebagai cinta sejati yang tak sampai.

Tapi tidak sedikit yang membuktikan bahwa justru terkadang ada yang menikah tanpa bermodal cinta di awal. Tapi pada akhirnya dia bisa menghadirkan cinta untuk pasangannya seiring dengan berjalannya waktu. Pelajaran inilah yang bisa saya temukan dalam Manmarziyaan.
Kisah ini dibuka dengan acting urakan pasangan nakal Rumi dan Vicky. Karena orang tuanya khawatir, maka mereka berencana untuk menikahkan Rumi. Tapi Rumi tidak mau menikah kepada lelaki lain selain Vicky. Kemudian dia meminta Vicky untuk datang melamarnya. Dia terlalu pengecut dalam urusan cinta. Tapi Vicky tidak punya keberanian.

Rumi marah. Dia menyerahkan perjodohan kepada keluarganya. Maka datang seorang lelaki bernama Robbi. Singkat cerita, Rumi tidak bahagia dengan pernikahannya. Tapi dia diam-diam mulai menyukai Robbi meski tidak sehebat cintanya pada Vicky dulu.

Robbi tahu keadaan yang sesungguhnya sehingga harus memberi waktu kepada Rumi.Memilih melanjutkan pernikahan atau mengakhirinya. Dia mencoba mengerti dan bersikap moderat.

Rumi meyakinkan bahwa dia memilih melanjutkan pernikahan dan mengakui mulai menyukai Robbi. Tapi justru kenyataan yang ada sebaliknya. Dia masih berhubungan dengan Vicky dan bahkan mengunjunginya.

Robbi mengetahui fakta ini dari jalan yang tak terduga. dia sakit hati dan perceraian pun terjadi. dia marah kepada Rumi dan kepada dirinya sendiri yang mencintai Rumi.

Tapi disinilah kesadaran Rumi bermula. Ternyata dia membutuhkan Robbi tanpa dia sadari. Dia merasa kehilangan setelah perceraian tersebut. Vicky datang untuk melamarnya, tapi Rumi meminta vicky untuk menjauh karena kini hatinya  terpaut pada Robbi.

Hmm, meleleh kan? Film genre drama-romance ini mampu mengaduk-aduk emosi para penontonnya dengan acting para tokohnya. Sayangnya, banyak kekurangan yang kita temukan pada film yang satu ini. Selain dengan durasi film yang terlalu panjang disertai dengan jogged-joged ala india, Film ini juga terkesan terlalu gegabah dengan scene-scene yang tabu.
Tapi terlepas dari semua itu, saya menilai film ini memiliki pesan yang bagus dan memiliki kualitas yang tidak tidak terlalu mengecewakan. Tiga pesan yang saya tangkap dari Manmarziyaan adalah

>> Cinta pertama bukan segala-galanya

>> Komitmen dalam ikatan pernikahan adalah segala-galanya dan kehormatan yang tidak bisa ditawar.

>> Menikah tanpa bermodal cinta tak selalu berujung  pada penderitaan dan perceraian. Justru waktu yang akan menghadirkan cinta itu seiring dengan interaksi dan kebersamaan yang mereka jalani bersama-sama

===
Rating
Cerita: 7,5 | Penokohan: 8 | Visual: 8 | Sound Effect: 8 | Penyutradaraan: 8 |

Nah, kamu sendiri apakah punya pengalaman ini. Kapan cintamu hadir? Sebelum atau sesudah menikah? Atau baru menyadarinya setelah bercerai. Jangan sampai ya.
Pst! saya bertanya kepada mereka yang sudah menikah. Yang jomblo tak perlu sok tahu menjawab. ehehe

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.