Ustad Hotel (2012)
Berhubung lagi demam film India. Saya ingin
berbagi review film India lagi. Kali ini saya ingin mereview film besutan Anwar
Rasheed, ‘Ustad Hotel.’
Ustad hotel adalah film india berbahasa
Malayam yang menginspirasi kita tentang arti penting dari konsistensi mengejar
asa, harapan, dan kedermawanan. Ustad hotel juga mengajarkan arti penting untuk
memperjuangkan apa yang menjadi impian kita tanpa perlu mendengarkan apa yang
orang lain inginkan dari kita. Hatta dari orang tua sendiri.
Film berdurasi dua jam setengah ini memiliki
alur/plot yang kuat dan bagus. Sayangnya, durasi yang panjang membuat saya
sedikit bosan. Apalagi alurnya terkesan datar. But, terlepas dari semua itu
saya berani mengatakan bahwa film ini sangat bagus dan layak untuk ditonton
jika dilihat dari keseluruhan plot dan pesan yang disampaikan.
Cerita dibuka dengan sejarah keluarga Abdul
Razaq. Lelaki ini harus menunggu hingga kelahiran kelima untuk punya anak lelaki.
Dan anak bontot itu dia beri nama Faizal (Dulqueer Salman) yang dipanggil dengan panggilan
kesayangan Faizi. Setelah kematian istrinya, Farida, Razaq memboyong
anak-anaknya ke Dubai dan memulai hidup baru.
Dalam diri Faizal mengalir bakat sang kakek,
Karim Ikka. Sejak kecil, ia begitu menggemari urusan perdapuran. Razaq sendiri menentang
hal itu karena dianggapnya sebagai pekerjaan memalukan. Ia bersikeras ingin
memutus mata rantai generasi anak cucunya dari label ‘tukang masak’. Tapi Faizi
tetap menyukai dunia masak. Hingga dia membohongi ayahnya. Ayahnya mengirimnya
kuliah ke New Zealand untuk memperoleh gelar MBA di bisnis perhotelan. Nyatanya
dia belajar menjadi seorang koki.
Ayahnya murka ketika mengetahui hal itu dan
memegang kendali. Dia menyabotase paspor Faizal sehingga tidak bisa kembali ke
London. Dengan keadaan marah, Faizi kabur dan memilih tinggal di rumah Karim
Ikka sang kakek.
Tapi sebelum menonton, perkenankan saya untuk
mengutip beberapa quote penuh makna dari film yang satu ini,
Siapa pun bisa mengenyangkan perut orang lain.
Tapi mereka yang makan juga harus terpuaskan secara batin. Kemana pun itulah
yang menjadikan seorang tukang masak menjadi hebat. (Karim Ikka)
“Bukankah kita sendiri penentu nasib kita,
Kek? Akulah yang harus putuskan apa yang harus kulakukan dalam hidup ini,”
Faizi berargumen.
“Jika itu masalahnya, kau tak akan bersamaku.
Jika kau mampu berbuat sesuka hatimu, kau pasti sudah hidup bahagia di London
sekarang. Kau tak akan mengurusi masalah orangtua sepertiku, kan? Hidup kita
sepenuhnya ada pada kendali Tuhan, kita hanya diberi pilihan.”
Oh iya, sebagai warning, abaikan adegan
tarian-tarian dan lelaguan di film ini. Jangan tanya, apakah saya menikmatinya?
Hehe.
Nah bagaimana kisah selanjutnya? Silakan tonton
filmnya.



Tidak ada komentar: